orang ini sahabat saya sejak di awal akilbaliq kami. Dulu dan nanti tetap sahabat ku. ndut badai masih belum berlalu, tapi semangat masih tetap sama kan ?
ALMOST!!!...the man without anger...hehehe
kalo aja gak tau marahnya dia, pasti orang nyangka dia nggak pernah marah. Bahkan dulu seorang temen dulu sempat bilang,
"...dia itu dewa!"
Sabar dan bijaksana, kayaknya itu masih jadi ciri
Sang Penyair Jalanan dari Jatinangor...
Bersama Ijul, ia akrab menemani dan mengisi hari2 gw di Jatinangor dekade 90-an. Pembawaanya kalem, tenang, dan kadang agak nyantai. Wajahnya terbilang ganteng untuk ukuran saat itu. Saat ini pun sebenarnya masih, tapi dimata para kawan-kawan Fikom, ia lebih ke'ibu'-an. Pria bertutur sikap ndeso ini memang sangat menggemari dunia teater dan puisi. Baginya, puisi dan cinta adalah nomor satu. Maka, tatkala ditantang untuk membuat puisi cinta, dengan mantap pemilik wajah ndeso ini menjawab "Oh ya bersedia, kenapa tidak! Ujarnya.
Baginya menjadi seorang pecinta rakyat itu mempunyai kepuasaan yang lain. "Melihat rakyat bergembira dan tertawa lepas itu merupakan suatu kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Meskipun gaji yang saya peroleh kecil dari beternak dan bertani akan tetapi saya merasa bahwa kebaikan-kebaikan yang rakyat berikan kepada saya adalah gaji yang saya terima dari Tuhan tambahnya. Adalah Juandi yng menyadari bahwa perkawanan sejati ada pada rakyat jelata.(rachmat)
Ah, Ju. Nggak ada yanga bakali bisa bikin gue lupa sama sepotong puisi lo itu. Sekerat kalimat yang bakal jadi patokan rasa gue saat menulis. Saat merasa. Ya merasakan kerinduan yang melecut-lecut akan cerita manusia yang lebih baik. Seperti gue juga kangen sama lo Ju!
apa kabar kang Juandi?
terima kasih atas nasihat-nasihatnya.
Tolong kalau ada masukan lagi, segera saja disampaikan ya!
MyCommentSpace.com
Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)
Kata-katanya berceceran sepanjang jalan karena ia sudah tidak sanggup lagi membendung hasrat.
kalo aja gak tau marahnya dia, pasti orang nyangka dia nggak pernah marah. Bahkan dulu seorang temen dulu sempat bilang,
"...dia itu dewa!"
Sabar dan bijaksana, kayaknya itu masih jadi ciri
Sang Penyair Jalanan dari Jatinangor...
Baginya menjadi seorang pecinta rakyat itu mempunyai kepuasaan yang lain. "Melihat rakyat bergembira dan tertawa lepas itu merupakan suatu kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Meskipun gaji yang saya peroleh kecil dari beternak dan bertani akan tetapi saya merasa bahwa kebaikan-kebaikan yang rakyat berikan kepada saya adalah gaji yang saya terima dari Tuhan tambahnya. Adalah Juandi yng menyadari bahwa perkawanan sejati ada pada rakyat jelata.(rachmat)
Ah, Ju. Nggak ada yanga bakali bisa bikin gue lupa sama sepotong puisi lo itu. Sekerat kalimat yang bakal jadi patokan rasa gue saat menulis. Saat merasa. Ya merasakan kerinduan yang melecut-lecut akan cerita manusia yang lebih baik. Seperti gue juga kangen sama lo Ju!