|
1. pbulanpanca1 doc.JPG
|
"69 Berkubang Liang, the NOVEL. Have you read this?"
"Sexy, Spiritualistic
Some comments about me:
69 Berkubang Liang harus dibaca lelaki, tidak hanya perempuan. Karena di..."
More about 69
|
-
-
-
-
Schools (Other):
Universal School
-
Occupation:
Storyteller
-
Affiliations:
http://69berkubangliang.wordpress.com, http://69berkubangliang.multiply.com, http://fiximix.multiply.com
-
Hobbies and Interests:
Reading, Writing, Imagining, Storytelling
-
Favorite Books:
69berkubangliang
-
Favorite Movies:
69 Trilogy
-
Favorite Music:
Jazz, Rock, Metal, Classical
-
Zodiac Sign:
Aries
-
About Me:
Sexy, Spiritualistic
Some comments about me:
69 Berkubang Liang harus dibaca lelaki, tidak hanya perempuan. Karena di sini banyak kritik yang ditujukan kepada lelaki. Novel ini banyak berisi pemikiran tentang perempuan-lelaki dan kesetaraan. Ada hipotesis tentang tidak akan pernah adanya kesetaraan dikaitkan dengan bentuk kelamin dan tubuh secara keseluruhan. Teori, pemikiran gender dan kemanusiaan pada umumnya yang serius berpadu dengan cerita anak-anak muda yang gaul, masyarakat urban yang dengan gamblangnya dideskripsikan dari kafe ke kafe, klub ke klub, mengisap rokok tertentu, minum di warung kopi franchise, dsb.
(Gadis Arivia, aktivis perempuan, dosen Filsafat Universitas Indonesia, pada Launching 69 Berkubang Liang di Citos, 29 Mei 2007)
Membawa pembaruan dan penyegaran terhadap sastra Indonesia . Tak hanya menukik pada eksposisi keberanian memaparkan pengalaman yang membicarakan seks secara blak-blakan, tapi juga membuktikan kecerdasan, ketajaman, dan kelihaian pemakaian bahasa Indonesia baru yang praktis, hidup, dan berbau gaul, sehingga menembus batas wilayah sastra sebelumnya. Sastra menjadi akrab dengan kawula muda. Henny membuat penulis konvensional seperti saya, menjadi bahan pengamatan dan pembelajaran.
(Putu Wijaya)
69 Berkubang Liang sudah membuat suatu langkah baru karena telah membongkar tabu seksualitas perempuan. Penulisnya telah mengangkat dan menceritakan dengan lugas dan terbuka persoalan seksualitas perempuan. Ketika perempuan bicara tentang tubuh, ia juga bicara tentang persoalan sosial.
(Mariana Amiruddin, Jurnal Perempuan, dikutip dari Kompas, 2 Juli 2007)
Penulis mencoba membuat narasi baru pada novel dengan menggabungkan antara drama dan novel. Dengan membuat awal cerita seperti naskah untuk pertunjukan drama di sepuluh halaman pertama yang dihiasi dengan ilustrasi para pemain drama tersebut. Gambar ilustrasi yang mencoba menggambarkan isi buku merupakan terobosan baru dalam sebuah novel. Dengan gaya yang ngepop penulis berusaha mendekatkan novel ini kepada anak muda yang saat ini memang dikepung oleh visualisasi modern.
Penulis menggambarkan persetubuhan Langi dan Tantra, teman kumpul kebonya, secara detail dengan deskripsi bahasa puitis dan elegan hingga tidak terkesan seperti cerita stensilan yang dulu banyak dikenal anak muda. Tidak berlebihan jika dalam endorsement novel ini Budi Darma berkomentar bahwa judul novel ini sangat menarik, sesuai dengan isi dan diksinya, bagus dan puitis.
(Umi Kulsum, “Kala Perempuan Bicara Seks”, Kompas, Senin, 2 Juli 2007)
Henny Purnama Sari akan membawa Anda ke dunia ”orgasme” dengan pemikiran ekstrim kedua tokoh, lengkap dengan penggunaan kalimat yang lugas dan detail. Hasilnya? Kenikmatan dan kepuasan yang ”menggigit” hingga akhir!
(Proud to Be A Woman (Editor’s Choice), Majalah Cosmopolitan, Juli 2007)
”Jujur, saya jarang membaca buku segamblang 69 Berkubang Liang. Jalan pikiran tiap tokoh memberi saya sebuah perspektif baru. Cara Henny melukiskan Langi dan Bulan dan semua yang terjadi di sekitar mereka sungguh intensif. Sebagai seorang wanita, saya merasa ini buku yang layak untuk dibaca.”
(Indah, 23 tahun. Dalam ”What They Said” Cosmopolitan)
“Renungan dan penelitian Bulan mengenai kesetaraan gender, khususnya aksi pemerkosaan adalah bagian favorit saya dalam buku ini. Banyak fakta otentik yang mendukung penuturan tiap tokoh. Memang, susah-susah gampang ya, menjadi wanita.
(Nadia, 27 tahun. Dalam ”What They Said” Cosmopolitan)
Banyak hal baru dalam novel ini. Dari segi bentuk maupun isi. Memasukkan film ke dalam novel namun tetap tunduk pada karakter novel sebagai still visual medium (kebalikan dari film Kill Bill-nya Tarantino yang memasukkan unsur sastra dan komik) dan lebih menghidupkan karakter lewat visualisasi unik, yaitu foto dan grafiis dalam storyboard (seperti visualisasi untuk produksi TVC). Didukung model profesional (fun fearless female), pekerja seni dan iklan berpengalaman, teknik penulisan menyelam-menyembul, serta plot dan alur yang tidak linier.
Novel ini juga tidak biasa dalam isi. Mengandung tema gender dalam kaitannya dengan evolusi manusia dan kehidupan dunia lain (other world living being), seks spiritual (seks adalah inti kehidupan, hidup adalah sanggama), dan polyamory (love is a hologram), yakni cinta bisa multi (digandakan) , bukan dibagi, ini penulis sebut pula multipartner relationship. Selain itu menyisipkan kegilaan dalam diri manusia, juga kejujuran anak-anak terhadap seksualitas, termasuk mereka yang mengalami sexual abuse.
(Menyatukan dunia iklan dan sastra, AdDiction, Mei 2007)
- Judul sangat menarik dan sesuai dengan isi novel
- Visualisasi menunjang kebagusan novel ini
- Diksi bagus, puitis
- Sensualitas bagus
- Penggabungan drama/teater dengan novel dalam karya ini merupakan eksperimen baru yang patut diperhitungkan.
(Budi Darma)
Henny memiliki teknik bercerita yang orisinal, tidak meniru gaya penceritaan novel se
-
Who I Want to Meet:
You
-
|
 |
How you're connected:
| You |
 |
69 is in your extended network |
 |
69 |
-
-
|
MyNiceSpace.com
n tetep berkarya ma brow