"Selamat datang, Bung," sambut sang tuan rumah ketika saya masuk. Ia masih muda, kumisnya tipis, kulitnya coklat,sorot matanya jahat. Ia duduk di sebuah kursi goyang, di ruang tamu bergaya kolonial. Sambil mendengar tembang dari piringan hitam. Smaradhana.Guruh Gipsy.
"Panggil saya 'Beliau'," senyumnya tipis. Ia tidak beranjak. Kami tidak bersalaman.
Ia mempersilakan saya duduk di sebuat kursi antik.
Sementara itu si Pria Berbaju Safari berdiri di pintu masuk. Ruangan ini kurang pencahayaan, tapi kacamata hitam tetap bertengger di hidungnya yang pesek.
"Bung, mau minum apa?"
"Maaf, pak Beliau, tak usah bertele-tele. Apa maksud semua ini?"
"Jangan panggil pak," tukasnya. "Kita sebaya, panggil saja Beliau."
Saya mengernyit. "Okelah, 'Beliau."
"Saya undang Bung karena saya ingin kasih pekerjaan buat Bung."
Saya sudah bisa menebak.
"Menemukan Gro,kan?"
Ia mengangguk.
"Bung berangkat malam ini juga."
Dari balik kaca kursi belakang Jaguar yang disetir si Pria Berbaju Safari,saya saksikan Jakarta yang berantakan.
"Nusantara sudah jadi benua, ibukota tetap memble..." desah si Pria Berbaju Safari.
Saya diam saja. Ada maksud apa si Pria Berbaju Safari mengajak saya? Dia bilang ia tahu Gro ada di mana. Dia pasti ngibul. Namun saya penasaran. Apa yang menunggu saya di tempat tujuan?
"...banjir, macet, demonstrasi sana-sini...belon lagi baunya itu lho...Hoeekk!" si Pria Berbaju Safari terus berkicau.
Langit Jakarta butek, seakan memantulkan air comberan yang sering meluap kemana-mana itu. Kota ini terasa gelisah.Seperti 10 tahun lalu. Hati saya rawan.Di luar,anak-anak jalanan berkeliaran. Seorang pelacur jelita berdandan di bawah jalan layang. Ehm.
Jaguar itu menembus jalanan sempit di kawasan Condet.Hari sudah menjelang sore ketika mobil berhenti di satu rumah gedongan.
Si Pria Berbaju Safari turun.Pintu mobil dibuka.
"Yuk," ujarnya,"Beliau sudah menunggu Bung di dalam."
Perempuan itu ingin menghabisi Gro. Saya terperanjat.
"Gro harus dituntaskan," ujar Perempuan itu. Suaranya serak penuh kesumat.
"Kenapa?"
"Bung tak perlu tahu," tukasnya.
Ia sentil rokok ke semak-semak.
"Saya tidak tahu ia dimana."
Perempuan itu mendengus.
"Kalau begitu, Bung hanya membuang waktuku saja."
Ia lalu beranjak. Dengan setengah memaksa, ia minta kunci motor. Saya berikan. Hati saya serasa dibuang ke jurang. Saya kira ia kangen ingin bertemu. Tapi rupanya ia datang untuk menghabisi Gro.
Saya kini sendirian. Tapi kepala saya ramai penuh tanda tanya.
Ada apa dengan Gro? Ia telah satukan nusantara menjadi sebuah benua. Bukankah itu artinya dia pahlawan? Kenapa Perempuan itu ingin menghabisinya?
Tiba-tiba satu suara memanggil nama saya. Seorang pria berdiri di belakang, entah sejak kapan. Sepatunya pantofel. Bajunya safari. Rambutnya cepak.Kacamatanya hitam.
Bung, kita nyarap dulu, yuk!". Ia tepuk tangan dan memanggil seorang penjaja ketoprak yang kebetulan lewat.
Hmm,saya harus salut sama si abang ketoprak ini. Nusantara boleh bersatu,Indonesia boleh menjelma jadi benua dalam semalam. Ini berita besar!Dan ia tetap berdagang.
Anak-istri butuh makan,katanya.
Demikianlah pagi itu kami duduk di bawah pohon kelapa, menghadap tanah lapang yang sejam lalu bernama pantai Ancol,sambil kepedesan makan ketoprak. Perempuan itu bilang ia kangen jajanan pasar. Kue apem, pisang goreng dan otak-otak.
Setelah makan, ia menjangkau kantong yang tersangkut di papan selancarnya.Tiba-tiba saja di bibirnya terselip sesuatu.
Rupanya ia merokok.
Saya tercenung.
"Bung mau?"
"Gak, makasih."
Saya perhatikan ia lama-lama.
"Saya kira kamu gak akan pernah kembali," saya ganti topik.
"Aku nggak mau...,"tukasnya.
"Tapi aku harus balik," parasnya sedikit menegang.
"Panggil saya 'Beliau'," senyumnya tipis. Ia tidak beranjak. Kami tidak bersalaman.
Ia mempersilakan saya duduk di sebuat kursi antik.
Sementara itu si Pria Berbaju Safari berdiri di pintu masuk. Ruangan ini kurang pencahayaan, tapi kacamata hitam tetap bertengger di hidungnya yang pesek.
"Bung, mau minum apa?"
"Maaf, pak Beliau, tak usah bertele-tele. Apa maksud semua ini?"
"Jangan panggil pak," tukasnya. "Kita sebaya, panggil saja Beliau."
Saya mengernyit. "Okelah, 'Beliau."
"Saya undang Bung karena saya ingin kasih pekerjaan buat Bung."
Saya sudah bisa menebak.
"Menemukan Gro,kan?"
Ia mengangguk.
"Bung berangkat malam ini juga."
"Nusantara sudah jadi benua, ibukota tetap memble..." desah si Pria Berbaju Safari.
Saya diam saja. Ada maksud apa si Pria Berbaju Safari mengajak saya? Dia bilang ia tahu Gro ada di mana. Dia pasti ngibul. Namun saya penasaran. Apa yang menunggu saya di tempat tujuan?
"...banjir, macet, demonstrasi sana-sini...belon lagi baunya itu lho...Hoeekk!" si Pria Berbaju Safari terus berkicau.
Langit Jakarta butek, seakan memantulkan air comberan yang sering meluap kemana-mana itu. Kota ini terasa gelisah.Seperti 10 tahun lalu. Hati saya rawan.Di luar,anak-anak jalanan berkeliaran. Seorang pelacur jelita berdandan di bawah jalan layang. Ehm.
Jaguar itu menembus jalanan sempit di kawasan Condet.Hari sudah menjelang sore ketika mobil berhenti di satu rumah gedongan.
Si Pria Berbaju Safari turun.Pintu mobil dibuka.
"Yuk," ujarnya,"Beliau sudah menunggu Bung di dalam."
"Gro harus dituntaskan," ujar Perempuan itu. Suaranya serak penuh kesumat.
"Kenapa?"
"Bung tak perlu tahu," tukasnya.
Ia sentil rokok ke semak-semak.
"Saya tidak tahu ia dimana."
Perempuan itu mendengus.
"Kalau begitu, Bung hanya membuang waktuku saja."
Ia lalu beranjak. Dengan setengah memaksa, ia minta kunci motor. Saya berikan. Hati saya serasa dibuang ke jurang. Saya kira ia kangen ingin bertemu. Tapi rupanya ia datang untuk menghabisi Gro.
Saya kini sendirian. Tapi kepala saya ramai penuh tanda tanya.
Ada apa dengan Gro? Ia telah satukan nusantara menjadi sebuah benua. Bukankah itu artinya dia pahlawan? Kenapa Perempuan itu ingin menghabisinya?
Tiba-tiba satu suara memanggil nama saya. Seorang pria berdiri di belakang, entah sejak kapan. Sepatunya pantofel. Bajunya safari. Rambutnya cepak.Kacamatanya hitam.
"Ikut saya,yuk" ujarnya.
"Saya tahu lho, Gro ada dimana."
Mohon maaf lahir dan bathin..Selamat Idul fitri 1 Syawal 1429H..
Happy holiday,,
-anna
Hh..
Hmm,saya harus salut sama si abang ketoprak ini. Nusantara boleh bersatu,Indonesia boleh menjelma jadi benua dalam semalam. Ini berita besar!Dan ia tetap berdagang.
Anak-istri butuh makan,katanya.
Demikianlah pagi itu kami duduk di bawah pohon kelapa, menghadap tanah lapang yang sejam lalu bernama pantai Ancol,sambil kepedesan makan ketoprak. Perempuan itu bilang ia kangen jajanan pasar. Kue apem, pisang goreng dan otak-otak.
Setelah makan, ia menjangkau kantong yang tersangkut di papan selancarnya.Tiba-tiba saja di bibirnya terselip sesuatu.
Rupanya ia merokok.
Saya tercenung.
"Bung mau?"
"Gak, makasih."
Saya perhatikan ia lama-lama.
"Saya kira kamu gak akan pernah kembali," saya ganti topik.
"Aku nggak mau...,"tukasnya.
"Tapi aku harus balik," parasnya sedikit menegang.
"Kenapa?"
Ia hisap rokok dalam-dalam.
"Aku harus menghabisi Gro."