a soul that will never rest

      DSC_0066.jpg
      "asik uyy setelah 8 taun kuliah 2 perguruan tinggi akhirnya dapat gelar sarjana desain (S.Ds) hehee...beuhh napa ga dr dl ya haha.."

      "10 meter dari arwah itu dan tubuhKu kejang kejang tak ada glamor pada kematian yg tiba tiba ym: tito_war20"

      More about a soul that

      a soul that's Photo Gallery

      FOTOGRAFF
      mahapetaka
      gelo
      • gelo
      • 6 photos
      • Public
      apalah..kah..pun..

      a soul that's Treasure Chest

      a soul that's Blogs

      loading...

      More About a soul that

      Testimonials and Comments for a soul that

      • a soul that
      • Posted
      • Abdullah, Aceng. (2002). Press Relation, Kiat Berhubungan Dengan Media Massa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

        Ahmad Nada (9 Juli 2005). Kartun dan Karikatur: Homo Humanis dalam Pers Kita. Pikiran Rakyat.

        Archer, Jules. (2004). Kisah para Diktator, Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran. Yogyakarta: Narasi.

        Ardianto, Elvinaro, & Karlinah, Siti, & Komala, Lukiati. (2007). Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
      • a soul that
      • Posted
      • Arpan, G Floyd. (1968). Wartawan Pembina Masjarakat, Suatu Pedoman Kerdja Wartawan Berlandaskan Teori Tanggungdjawab. Disadur oleh Rochady S (1970). Bandung: Binatjipta.

        Budiman, Kris. (2004). Semiotika Visual. Yogyakarta: Buku Baik.

        Eco, Umberto. (2007). Teori Semiotika. Terjemahan Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

        Eriyanto. (2001). Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

        Heru Dwi Waluyanto. (2000). Karikatur Sebagai Karya Komunikasi Visual Dalam Penyampaian Kritik Sosial. Nirmana vol. 2, no. 2, juli 2000: 128-134.
      • a soul that
      • Posted
      • Maran, Rafael Raga. (2001). Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Bineka Cipta.

        PR, Subagyo. (1986). Persuratkabaran Indonesia Dalam Era Informasi. Perkembangan, Permasalahan, dan Perspektifnya. Jakarta: Sinar Harapan.

        Pramoedjo, Pramono R. (2008). Kiat Mudah Membuat Karikatur. Jakarta: Creativ Media.

        Ruslan, Rosady. (2008). Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo.

        Sastropoetra, Santoso. (1983). Propaganda, salah satu bentuk komunikasi Massa. Bandung: Alumni.

        Sobur, Alex. (2002). Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

        Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

        Sudibyo, Agus. (2001). Politik Media Dan Pertarungan Wacana. Yugyakarta: LKIS.

        Sunarjo, S Djoenaesih. (1997). Seri Ilmu Komunikasi 4. Opini Publik. Yogyakarta: Liberty.

        Sunardi, ST. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.

        Taufik, I. (1977). Sejarah dan Perkembangan Pers Di Indonesia. Tanpa kota: Triyinco.
      • a soul that
      • Posted
      • SKRIPSI...jangaaaarr
      • a soul that
      • Posted
      • Genealogi Foucault..

        Jika kita menyimak Derrida lebih serius, sebenarnya dia lebih menyinggung banyak soal metafisika dan sastra daripada ilmu-ilmu sosial. Maka dari itu, hubungannya tidak langsung, karena tetap ada celah antara metafisika dan ilmu-ilmu sosial, yakni basis empiris. Dicelah inilah Michel Foucault bermain. Dia menolak segala bentuk teori sosial maupun positivisme yang masih berbau humanisme, seperti pendekatan Habermasian, yang sudah dibicarakan diatas. Kalau ingin mencari inti dari pemikirannya, inti itu seperti problem utama Derrida yakni bahasa dan teks, inti pemikiran terletak di teori diskursus. “...ilmu-ilmu sosial dan sains adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hadirnya subyek dan obyek epistemologis, khususnya manusia sebagai subyek...”[24] Searah dengan Derrida, Foucault juga melihat realitas sebagai teks, dan teks itu jugalah tanpa kehadiran pengarang. “...Subyek adalah entitas yang anonim dan tercipta melalui percakapan..
      • a soul that
      • Posted
      • Dekonstruksi Derrida...

        Pemikiran tentang bahasa dan teks juga tidak dapat dilepaskan begitu saja dari analisa-analisa sosial. Giddens pernah menulis, “...Sejak strukturalisme Saussure, ilmu bahasa atau linguistik kerap dipandang sebagai kunci bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial...”[20] Dari sudut pandang para pemikir postmodernisme, realitas adalah teks atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi, pertama bahasa sebagai percakapan lisan, yakni sisi eksekutif bahasa. Kedua, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa. Nah, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa ini bisa dibagi menjadi dua, yakni bahasa sebagai penanda, dan bahasa sebagai petanda.
      • a soul that
      • Posted
      • Ringkasan Kehidupan-Kehidupan Bakal Buddha Gotama
        Seperti yang telah dikisahkan di atas, Bakal Buddha Gotama

        menerima ramalan dari dua puluh empat Buddha, sejak Buddha
        Dãpaïkarà sampai dengan Buddha Kassapa. Kehidupan-kehidupan-
        Nya di mana Beliau menerima ramalan dapat disimpulkan sebagai
        berikut:
      • a soul that
      • Posted
      • Lima Kehidupan Sebagai Petapa

        (i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
        sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
        Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
        (ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
        (iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
        (iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
        (v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
      • a soul that
      • Posted
      • Lima Kehidupan Sebagai Petapa

        (i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
        sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
        Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
        (ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
        (iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
        (iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
        (v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
      • a soul that
      • Posted
      • Sembilan Kehidupan Sebagai Bhikkhu

        (i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu
        (ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada
        masa Buddha Maïgala,
        (iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa
        Buddha Sumedhà,
        (iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
        Buddha Sujàta,
        (v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
        Buddha Phussa,
        (vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa
        Buddha Vessabhå,
        (vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
        Kakusandha,
        (viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
        Koõàgamana,
        (ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi
        bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

      a soul that's Media Box

      How you're connected:

      You a soul that is in your extended network a soul that

      a soul that's Friends


      Featured Sponsor

      See results for a soul that will never rest

      a soul that's a Fan Of...

      a soul that's Groups

      • U.N.I.K.O.M
      • 508 Members | Public group
      • Last post:
      • Mahasiswa UPI
      • 3313 Members | Public group
      • Last post:
      • praja_stpdnXVII
      • 408 Members | Public group
      • Last post: