Arpan, G Floyd. (1968). Wartawan Pembina Masjarakat, Suatu Pedoman Kerdja Wartawan Berlandaskan Teori Tanggungdjawab. Disadur oleh Rochady S (1970). Bandung: Binatjipta.
Budiman, Kris. (2004). Semiotika Visual. Yogyakarta: Buku Baik.
Jika kita menyimak Derrida lebih serius, sebenarnya dia lebih menyinggung banyak soal metafisika dan sastra daripada ilmu-ilmu sosial. Maka dari itu, hubungannya tidak langsung, karena tetap ada celah antara metafisika dan ilmu-ilmu sosial, yakni basis empiris. Dicelah inilah Michel Foucault bermain. Dia menolak segala bentuk teori sosial maupun positivisme yang masih berbau humanisme, seperti pendekatan Habermasian, yang sudah dibicarakan diatas. Kalau ingin mencari inti dari pemikirannya, inti itu seperti problem utama Derrida yakni bahasa dan teks, inti pemikiran terletak di teori diskursus. “...ilmu-ilmu sosial dan sains adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hadirnya subyek dan obyek epistemologis, khususnya manusia sebagai subyek...”[24] Searah dengan Derrida, Foucault juga melihat realitas sebagai teks, dan teks itu jugalah tanpa kehadiran pengarang. “...Subyek adalah entitas yang anonim dan tercipta melalui percakapan..
Pemikiran tentang bahasa dan teks juga tidak dapat dilepaskan begitu saja dari analisa-analisa sosial. Giddens pernah menulis, “...Sejak strukturalisme Saussure, ilmu bahasa atau linguistik kerap dipandang sebagai kunci bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial...”[20] Dari sudut pandang para pemikir postmodernisme, realitas adalah teks atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi, pertama bahasa sebagai percakapan lisan, yakni sisi eksekutif bahasa. Kedua, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa. Nah, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa ini bisa dibagi menjadi dua, yakni bahasa sebagai penanda, dan bahasa sebagai petanda.
Ringkasan Kehidupan-Kehidupan Bakal Buddha Gotama
Seperti yang telah dikisahkan di atas, Bakal Buddha Gotama
menerima ramalan dari dua puluh empat Buddha, sejak Buddha
Dãpaïkarà sampai dengan Buddha Kassapa. Kehidupan-kehidupan-
Nya di mana Beliau menerima ramalan dapat disimpulkan sebagai
berikut:
(i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
(ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
(iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
(iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
(v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
(i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
(ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
(iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
(iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
(v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada
masa Buddha Maïgala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Vessabhå,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
Koõàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi
bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.
Ahmad Nada (9 Juli 2005). Kartun dan Karikatur: Homo Humanis dalam Pers Kita. Pikiran Rakyat.
Archer, Jules. (2004). Kisah para Diktator, Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis dan Tiran. Yogyakarta: Narasi.
Ardianto, Elvinaro, & Karlinah, Siti, & Komala, Lukiati. (2007). Komunikasi Massa, Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Budiman, Kris. (2004). Semiotika Visual. Yogyakarta: Buku Baik.
Eco, Umberto. (2007). Teori Semiotika. Terjemahan Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Heru Dwi Waluyanto. (2000). Karikatur Sebagai Karya Komunikasi Visual Dalam Penyampaian Kritik Sosial. Nirmana vol. 2, no. 2, juli 2000: 128-134.
PR, Subagyo. (1986). Persuratkabaran Indonesia Dalam Era Informasi. Perkembangan, Permasalahan, dan Perspektifnya. Jakarta: Sinar Harapan.
Pramoedjo, Pramono R. (2008). Kiat Mudah Membuat Karikatur. Jakarta: Creativ Media.
Ruslan, Rosady. (2008). Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Sastropoetra, Santoso. (1983). Propaganda, salah satu bentuk komunikasi Massa. Bandung: Alumni.
Sobur, Alex. (2002). Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sudibyo, Agus. (2001). Politik Media Dan Pertarungan Wacana. Yugyakarta: LKIS.
Sunarjo, S Djoenaesih. (1997). Seri Ilmu Komunikasi 4. Opini Publik. Yogyakarta: Liberty.
Sunardi, ST. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.
Taufik, I. (1977). Sejarah dan Perkembangan Pers Di Indonesia. Tanpa kota: Triyinco.
Jika kita menyimak Derrida lebih serius, sebenarnya dia lebih menyinggung banyak soal metafisika dan sastra daripada ilmu-ilmu sosial. Maka dari itu, hubungannya tidak langsung, karena tetap ada celah antara metafisika dan ilmu-ilmu sosial, yakni basis empiris. Dicelah inilah Michel Foucault bermain. Dia menolak segala bentuk teori sosial maupun positivisme yang masih berbau humanisme, seperti pendekatan Habermasian, yang sudah dibicarakan diatas. Kalau ingin mencari inti dari pemikirannya, inti itu seperti problem utama Derrida yakni bahasa dan teks, inti pemikiran terletak di teori diskursus. “...ilmu-ilmu sosial dan sains adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hadirnya subyek dan obyek epistemologis, khususnya manusia sebagai subyek...”[24] Searah dengan Derrida, Foucault juga melihat realitas sebagai teks, dan teks itu jugalah tanpa kehadiran pengarang. “...Subyek adalah entitas yang anonim dan tercipta melalui percakapan..
Pemikiran tentang bahasa dan teks juga tidak dapat dilepaskan begitu saja dari analisa-analisa sosial. Giddens pernah menulis, “...Sejak strukturalisme Saussure, ilmu bahasa atau linguistik kerap dipandang sebagai kunci bagi filsafat dan ilmu-ilmu sosial...”[20] Dari sudut pandang para pemikir postmodernisme, realitas adalah teks atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi, pertama bahasa sebagai percakapan lisan, yakni sisi eksekutif bahasa. Kedua, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa. Nah, bahasa sebagai sistem tanda atau tata bahasa ini bisa dibagi menjadi dua, yakni bahasa sebagai penanda, dan bahasa sebagai petanda.
Seperti yang telah dikisahkan di atas, Bakal Buddha Gotama
menerima ramalan dari dua puluh empat Buddha, sejak Buddha
Dãpaïkarà sampai dengan Buddha Kassapa. Kehidupan-kehidupan-
Nya di mana Beliau menerima ramalan dapat disimpulkan sebagai
berikut:
(i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
(ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
(iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
(iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
(v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
(i) Setelah menerima ramalan pertama dari Buddha Dãpaïkarà,
sewaktu Beliau adalah seorang petapa bernama Sumedhà,
Beliau menerima ramalan yang sama sewaktu:
(ii) Sebagai Petapa Jatila pada masa Buddha Naradha,
(iii) Sebagai Petapa Susima pada masa Buddha Atthadassã,
(iv) Sebagai Petapa Maïgala pada masa Buddha Siddhattha,
(v) Sebagai Petapa Sujàta pada masa Buddha Tissa.
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada
masa Buddha Maïgala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa
Buddha Vessabhå,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha
Koõàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi
bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.